Tags

,


* Step to become a Journalis

Skeptis itulah ciri khas dari jurnalisme. Hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat hidup

Dasar sikap skeptis adalah semua manusia pasti mempunyai unsur kesalahan. Profesor Dr. Lalu, dosen Research Method FIB Brawijaya mengatakan bahwa jangan pernah mempercayai perkataan professor doctor botak yang sedang berbicara didepan anda tanpa dasar pemahaman Anda, cobalah mencari kebenaran melalui diri Anda sendiri. Karena yang demikian itu akan membuat diri anda lebih kritis dan bermakna. Kalau di filsafat Bapak LM Sugiharto, beliau menekankan budaya jangan mau “membeo”.

Maka, sikap skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu ( catatan – catatan dasar jurnalisme dasar, Luwi Ashwara. 2005)

Dalam buku tersebut juga di paparkan bagaimana sikap skeptis sangat berbeda dengan sinis untuk lebih memahamkan akan perbedaan antara keduanya. Nah sinis lebih pada sikap yang selalu merasa bahwa dia sudah mempunyai jawaban atas seseorang atau peristiwa. Jadi sikap sinis sering beririsan dengan sikap skeptis yang sesungguhnya. Atapun lebih tepatnya jangan sampai sikap skeptis kita yang bertujuan untuk membangun ditunggangi oleh sikap sinis yang akan mendangkalkan objektivitas kita menjadi subjektivitas.

Vartan Gregorian mengatakan bahwa sinis adalah kegagalan manusia yng paling korosif karena menyebar kecurigaan dan ketidak kepercayaan, mengecilkan harapan dan merendahkan nilai idealisme.

Menurut H.L. Menckens, penulis dan kritikus social, sinis adalah orang yang ketika mencium keharuman sekuntum bungan, justru melihat sekeliling mencari peti mati.

Untuk menolak sikap sinis, kita harus menanamkan naluri skeptis yang kuat. Sebagai wartawan yang bertugas mencari kebenaran kita selayaknya bertanya, menggugat, meragukan dan tidak begitu saja menerima kesimpulan-kesimpulan umum.

Pengarang Oscar Wilde berkata bahwa sifat skeptis adalah awal dari kepercayaan, sedangkan seorang yang sinis menganggap dirinya mengetahui nilai dari segala sesuatu, tetapi sesungguhnya ia sama sekali tidak mengetahui.